hdayana's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

KAKAO SEBAGAI INDIKATOR PERUBAHAN PARADIGMA BERPIKIR DAN BEKERJA SDM MALUKU UTARA

 

Pendahuluan

Maluku Utara sejak jaman kesultanan dikenal luas sebagai pusat rempah-rempah dunia dan tidak dapat dipungkiri bahwa kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara juga karena faktor rempah-rempah ini. Cengkeh dan Pala merupakan jenis rempah-rempah yang tumbuh subur di tanah Maluku Utara. Dua jenis tanaman tersebut sebagai contoh yang merepresentasikan bahwa tanah Maluku Utara adalah tanah yang sangat subur. Tanaman apa saja dapat tumbuh dan dapat ditanam dengan baik. Dengan kenyataan tersebut, maka Maluku Utara dapat dikatakan sebagai wilayah yang makmur gemah ripah loh jinawi. Sepanjang sejarah tidak pernah ada laporan penduduk yang kekurangan makanan.

Dari berbagai jenis tanaman yang dapat tumbuh subur, secara ekonomi dan secara sosiokultur jenis tanaman yang dominan ditanam oleh penduduk Maluku Utara adalah jenis tanaman tahunan terutama pala, kelapa, cengkeh, dan kakao. Maluku Utara adalah penghasil pala utama di Indonesia. Luas lahan pala yang dimiliki mencapai 39.691 ha yang merupakan 32.1 % dari keseluruhan pertamanan pala di Indonesia (123.781 ha). Ini merupakan nomor 1 (satu) di Indonesia. Kelapa seluas 227.574 ha atau 6 % dari luas total kelapa di Indonesia yang mencapai 3.727.556 ha dan berada pada urutan 5 (lima). Kakao 32.273 ha dan Cengkeh 20.348 ha (Direktorat Pengembangan Potensi Daerah BKPM, 2014) yang masing-masing berada pada urutan ke-9 dan 11 dilihat dari aspek luasan di Indonesia.

Dari 4 (empat) jenis tananaman yang dominan di atas, 3 (tiga) diantaranya secara sosiokultur sangat cocok sehingga berkesinambungan dan menjadi penyokong ekonomi masyarakat. Ketiga jenis tanaman tersebut adalah pala, kelapa, dan cengkeh. Sementara itu untuk tanaman kakao saat ini mengalami penurunan produktivitas yang sangat besar, padahal secara agroekogeofisikokimia Maluku Utara sangat cocok untuk kakao dan secara historis Maluku Utara merupakan salah satu daerah pengembangan saat awal kakao pertama masuk di Indonesia. Tentu akan menjadi pertanyaan buat kita bersama, mengapa pala, kelapa, dan cengkeh dapat terus berkesinambungan sementara kakao mengalami penurunan produktivitas? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan penjelasan yang sangat sederhana, yaitu pala, kelapa, dan cengkeh adalah tanaman menahun yang dapat tumbuh pada tanaman yang subur dengan intervensi manusia yang minimal atau dalam istilah teknis disebut dengan pola intensifikasi minimal. Masyarakat cukup dengan menanam bibit, kemudian menjamin bibitnya dapat tumbuh dan setelah itu paling hanya sesekali membersihkan areal sekitar pertanaman agar tidak terlalu lebat ditumbuhi gulma. Tindakan budidaya lainnya seperti pemupukan, pemangkasan/pembersihan ranting, penyiraman, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) nyaris tidak pernah dilakukan. Ini yang penulis sebut sangat cocok dengan sosiokultur masyarakat Maluku Utara yang sudah terbiasa dimanjakan dengan alam yang subur dan memudahkan. Ketiga tanaman tersebut sangat memungkinkan masyarakat untuk menyerahkan urusan dunia kepada “tangan tuhan”. Hal ini berbeda dengan kakao yang menuntut tindakan budidaya yang intens. Tanaman kakao memang tananaman tahunan yang dapat tumbuh secara vegetative terus menerus dengan baik meskipun tanpa intensifikasi yang maksimal, namun bila yang diharapkan adalah produktivitas tinggi, maka kakao harus diperlakukan dengan seksama. Kakao akan berbuah lebat dan terus menerus bila tanaman tumbuh tidak melebihi 4 (empat) meter serta tunas dan ranting yang tidak produktif dibuang secara rutin. Oleh karena itu, agar kakao dapat berbuah lebat maka tindakan utama yang harus dilakukan adalah melakukan pemangkasan secara rutin setiap 2 – 3 bulan. Tindakan lain yang sangat penting adalah pemupukan dan pengendalian OPT. Dengan demikian, bila kakao ingin sukses dikembangkan, maka “tangan tuhan” perlu dibantu oleh tangan-tangan manusia. Hal ini yang masih belum optimal dilakukan di Maluku Utara.

 

Potensi Ekonomi Kakao

Indonesia memiliki luas lahan kakao sekitar 1,68 juta ha dan menjadi negara penghasil Kakao nomor 3 di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana yang masing-masing memiliki kapasitas produksi 1.3 juta dan 900 ribu ton per tahun. Produksi Kakao Indonesia berfluktuasi setiap tahunnya, mulai dari 380 ribu sampai produksi tertinggi mencapai 621.873 ton pada tahun 2006. Produksi kakao pada tahun 2013 adalah 450.000 ton.

Sebelum diterapkannya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) No. 67 Tahun 2010 tentang bea keluar (BK) atas ekspor biji kakao pada 1 April 2010, produksi Kakao Indonesia diserap oleh Industri dalam negeri dengan angka tertinggi 180 ribu ton dan sebagian besar (lebih dari 400.000 ton) biji Kakao diekspor ke luar negeri dengan negara tujuan ekspor utama Malaysia, Singapura, China, Thailand, dan Amerika Serikat. Perimbangan antara serapan industri dalam negeri dan ekspor berubah setelah pemerintah menerapkan BK. Penerapan BK pada awalnya ditujukan untuk menumbuhkan industri pengolahan kakao di dalam negeri. Industri pribumi diharapkan dapat tumbuh dengan baik dengan jaminan pasokan bahan baku yang cukup dengan harga yang terjangkau. Dalam realitanya kebijakan ini tidak mendorong industri pribumi seperti yang diharapkan, namun industri dalam negeri memang meningkat pesat dengan pelaku utama perusahaan multinasional dengan kapital besar dan divesifikasi produk yang bervariasi. Serapan biji kakaopun meningkat tajam yang pada tahun 2012 mencapai lebih dari 300.000 ton dan bahkan lebih besar dari biji kakao yang dapat diekspor (sekitar 180.000 ton). Serapan industry kakao dalam negeri dalam beberapa tahun ke depan ini akan mencapai 539.000 ton per tahun, sementara produksi kakao dalam negeri hanya 450.000 ton. Dengan demikian terbuka peluang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang cukup besar, selain memenuhi kebutuhan ekspor. Kakao Indonesia sangat dibutuhkan oleh industri cokelat dunia karena kakao Indonesia memiliki aroma yang harum. Pertanyaan kita, mampukah Maluku Utara memanfaatkan peluang ini dan dimanakah kakao dapat ditanam?

 

Optimalisasi lahan dan pendapatan tambahan petani

Secara ekogeofisikokimia tanah Maluku Utara sangat cocok untuk ditanami kakao lebih luas dan telah memiliki prasyarat yang memadai untuk ditumbuhkan. Seperti diketahui, kakao adalah tanaman yang akan tumbuh optimal bila ditanam di bawah naungan tanaman lain. Pada lahan yang baru, bila kakao akan ditanam, maka satu tahun sebelumnya di lahan yang dimaksud harus ditanami tanaman yang berperan sebagai pelindung. Bila tanaman pelindung itu sudah tumbuh dengan baik, maka kemudian tanaman kakao menyusul ditanam. Di Maluku Utara, tanaman pelindung ini sudah tumbuh meluas dan menjadi salah satu tulang punggung ekonomi masyarakat, yaitu tanaman kelapa yang saat ini memiliki luas areal mencapai 227.574 ha. Pola pertanaman di Maluku Utara pada umumnya dalam pola tumpang sari dengan kelapa sebagai tanaman utama. Bila diasumsikan demikian dan dengan memperhatikan bahwa luas tanaman kelapa dikurangi dengan luas tanam dari 3 komoditi lain yaitu pala, kakao, dan cengkeh, maka lahan kelapa yang masih dapat dioptimalkan sebagai naungan tanaman Kakao seluas 135.262 ha. Suatu luasan yang cukup besar. Bila produktivitasnya dihitung dengan produktivitas sangat minimal, yaitu sekitar 300 kg per ha per tahun, maka Maluku Utara dapat berkontribusi minimal 40 ribu ton per tahun, apalagi bila produktivitasnya dapat didorong pada level 1 (satu) ton per ha per tahun, maka kontribusi Maluku Utara dapat lebih besar lagi. Produktivitas kakao dengan tindakan budidaya yang baik dapat mencapai 3,8 ton per ha per tahun. Bila Maluku Utara berhasil mewujudkan program ini, maka pada tingkat nasional akan naik peringkat dari 11 menuju peringkat 5 besar.

Pengembangan kakao pada lahan kelapa tidak akan mengubah peruntukan lahan petani karena kakao ditanam diantara pohon kelapa yang sudah ada. Lahan-lahan yang kosong diantara pohon kelapa akan termanfaatkan dan sinar matahari yang diterima akan lebih optimal tergunakan. Konsep inilah yang disebut dengan optimalisasi lahan. Optimalisasi lahan seperti ini, selain lebih menguntungkan dari aspek pemanafaatan sumber daya alam, juga akan menambah penghasilan petani. Dengan hitungan produktivitas lahan yang sangat minimal seperti hitungan di atas dan diasumsikan harga kakao pada hitungan minimal Rp. 20.000 per kg, maka petani akan mendapatkan tambahan Rp. 6 juta per ha per tahun.

Keberhasilan kakao adalah keberhasilan mengubah paradigma berpikir dan bekerja

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa kakao adalah tanaman yang membutuhkan intensitas campur tangan manusia lebih besar. Oleh karena itu bila Maluku Utara sukses dalam budidaya kakao maka akan menunjukkan telah terjadinya perubahan paradigma berpikir dan bekerja Malauku Utara. Sekolah Tinggi Pertanian Kewirausahaan (STPK) Banau Halmahera Barat ingin menjadikan kakao ini sebagai indikator perubahan paradigma tersebut. STPK Banau telah memulai langkah ini dengan menyelenggarakan Seminar Nasional Kakao pada November 2014 dengan menghadirkan nara sumber yang kompeten pada bidangnya yang meliputi Kementrian pertanian, Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo), Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Seminar ini telah menghasilkan beberapa rumusan yang pada intinya menunjukkan bahwa Maluku Utara sangat potensial untuk menjadi penghasil utama kakao di Indonesia. Langkah STPK Banau mendapat sambutan yang baik dari pemerintah pusat melalui Kementrian Pertanian yang pada tahun 2015 ini telah mengalokasikan anggaran untuk memulai langkah pengembangan kakao di Maluku Utara. STPK Banau berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat akan mendapat bantuan pengembangan Kebun Induk dan Kebun Entres Kakao dengan total luas 4 (empat) ha serta kegiatan intensifikasi pada areal seluas 400 ha. Kebun Induk dan Kebun Entres akan menjadikan cikal bakal Halmahera Barat sebagai pusat bibit Kakao di wilayah timur Indonesia yang juga tidak menutup kemungkinan untuk menghasilkan varietas-varietas yang sangat cocok dengan kondisi ekogeofisikokimia khas Maluku Utara yang akan diabadikan dalam penamaan varietas kakao tersebut. Program Kebun Induk dan Kebun Entres ini akan didanai selama 3 (tiga) tahun anggaran. STPK Banau akan melihat perubahan paradigma tersebut dari kiprah para mahasiswa dan lulusannya dalam pengembangan kakao ini. Jika ini sukses maka STPK Banau telah memulai lahirnya perubahan paradigma dari yang menyerahkan urusan pada “tangan Tuhan” kepada paradigma yang menjadikan kita betul-betul menjadi khalifah di muka bumi yang mengolah bumi dengan kecerdasan dan tenaga kita sendiri.

 

Dadan Hindayana

Ketua STPK Banau Halmahera Barat

Dosen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB

 

Swasembada Pangan: Mungkinkah?

 

Menteri Pertanian Kabinet Kerja, Amran Sulaiman telah menetapkan tekad untuk mencapai swasembada 4 (empat) komiditi pangan dalam 3-4 tahun, yaitu padi, jagung, kedelai, dan gula (Detik Finance, 28 Oktober 2014). Sebuah tekad yang patut didukung oleh semua pihak dan ini pasti disampaikan setelah melalui pemikiran yang mendalam. Yang akan jadi pertanyaan kita bersama adalah apakah target swasembada itu dapat dicapai? Bagaimana caranya dan kebijakan apa yang harus dilakukan oleh pemerintah?

Lahan tersedia dan tanaman bersifat additive mutual

Dari 4 (empat) komoditi pangan yang ditarget untuk swasembada, 3 (tiga) komoditi secara teoritis dapat dicapai sesuai dengan target bila diikuti dengan penerapan langkah-langkah strategis yang terarah. Tiga komoditi itu adalah padi, jagung, dan kedelai. Alasan secara teoritis 3 (tiga) komoditi itu dapat dicapai karena antara padi dengan jagung dan padi dengan kedelai memiliki sifat additive mutual atau complimentary alias dapat ditanam pada lahan yang sama. Kunci pelaksanaannya adalah mengatur POLA TANAM seperti kebijakan yang telah diterapkan pada tahun 1980-1997.
Bedasarkan Surat Keputusan (SK) Kepala BPN-RI No. 354/KEP-100.18/IX/2011 tanggal 16 September 2011 dan Statitik Lahan Pertanian 2013, luas baku sawah nasional adalah 8.132.345 Ha. Dengan lahan seluas itu, bila diasumsikan setiap hektar dapat dihasilkan 5 ton gabah kering giling (GKG) dan lahan dapat ditanami 2 (dua) kali dalam setahun maka di atas kertas dapat dihasilkan 81.323.450 ton GKG. Dengan rendemen 60%, akan didapatkan peoduksi beras nasional sebesar 48.794.070 ton. Jumlah ini sudah di atas kebutuhan beras nasional untuk jumlah penduduk Indonesia saat ini (33 juta ton beras).
Bagaimana dengan jagung dan kedelai? Kedua komoditi itu dapat ditanam di lahan yang sama dengan lahan padi, kuncinya hanya mengatur pola tanam, yaitu padi-padi-kedelai dan padi-padi-jagung. Kebutuhan kedelai nasional sebesar 2.4 juta ton, bila diasumsikan produktifitas rata-rata kedelai adalah 1 ton per ha (dengan bibit unggul dan teknik budidaya yang baik, kedelai dapat mencapai 2 ton per ha) luas lahan yang dibutuhkan sebesar 2.4 juta ha. Sementara kebutuhan jagung nasional sebesar 18 juta ton dan dengan asumsi rata-rata produktifitas 4.5 ton pipilan kering (PK) per ha, maka luas lahan yang dibutuhkan 4 juta ha. Jadi dengan mengatur pola tanam di lahan sawah, secara teoritis ketiga komoditi itu dapat dihasilkan dan dapat memenuhi kebutuhan nasional. Ini belum dihitung untuk lahan jagung atau kedelai yang bukan dalam bentuk sawah. Sejak reformasi terjadi, penerapan pola tanam ini seolah menghilang dari pemandangan di lahan-lahan sawah, seperti yang sudah jarang terlihat disepanjang pesawahan antara Cianjur dan Bandung atau di sepanjang Jalur Pantura.
Sementara itu, untuk gula dengan asumsi yang ditanam adalah tebu, maka memerlukan lahan khusus yang terpisah dari lahan untuk padi, jagung, dan kedelai, Hal ini diperlukan karena antara tebu dengan 3 (tiga) komoditi itu besifat antagonism mutual mengingat tebu membutuhkan waktu panen yang cukup lama, bisa mencapai 12-13 bulan. Jadi lahan bila ditanam padi, tidak tersedia untuk tebu dan demikian juga sebaliknya. Berbeda dengan padi, jagung, dan kedelai, gula dikelola lebih terstruktur karena melibatkan kelembagaan yang lebih terkordinir dan juga diusakan oleh perusahaan-perusahaan besar. Untuk mencapai swasembada juga bukan hal yang tidak mungkin bisa dicapai. Bila konsumsi gula nasional sekitar 3 juta ton dan raw sugar sebesar 2.5 juta ton, maka dengan asumsi rendemen 8.5 % dan produktivitas 85 ton per ha, lahan yang harus disediakan sebesar 750.000 ha. Luas lahan ini untuk negara sebesar Indonesia bukan yang sulit untuk dipenuhi.
Hal yang sangat urgen dilakukan oleh Kabinet Kerja melalui kemetrian terkait adalah sesegera mungkin menetapkan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) sesuai amanat Undang-undang (UU) No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan menjadi sebuah ketetapan yang mengikat untuk mencegah terjadinya konversi lahan yang saat ini hampir sulit dikendalikan.
Faktor Pendukung Tercapainya Swasembada
Hitung-hitungan di atas sekedar menunjukkan bahwa secara teoritis dengan luas lahan yang dimiliki saat ini swasembada pangan sangat dimungkinkan bisa dicapai. Tentu saja banyak hal yang harus diperhatikan terutama faktor-faktor yang mendukung keberhasilan budidaya tanaman, mulai dari harga, benih unggul dan penerapan teknis budidaya, penyuluh, iklim yang mendukung, ketersediaan air, ketersediaan sarana pertanian lainnya, dan ketersediaan petani.
Harga produk
Padi, jagung, dan kedelai adalah komoditi yang sulit dapat membuat petani kaya, hanya sebatas bisa surplus. Itu juga bila harga di pasaran sedang bagus. Tiga komoditi ini dari konteks kepentingan negara sangat strategis karena dapat menyangkut stabilitas keamanan dalam negeri dan juga Pride of Nation (kebanggaan bangsa). Bergengsi jika dapat swasembada karena menunjukkan bahwa negara menjamin kebutuhan pokok warga negaranya dan menunjukkan dicapainya ketahanan pangan nasional. Dari konteks ekonomi nasional, sangat jelas bahwa ketiga komoditi itu bukan sektor yang dapat meningkatkan pendapatan negara. Mengingat perannya yang sangat strategis, negara wajib hadir dan terlibat banyak dalam penentuan harga. Harga produk tidak boleh diserahkan pada mekanisme pasar. Hukum penawaran dan permintaan untuk kasus komoditi pangan strategis sebaiknya tidak diterapkan. Kurang seimbang jika negara merasa sangat perlu, tapi kepentingan petani tidak diberikan perhatian secara khusus. Jadi harga yang pantas untuk masing-masing komoditi harus dijaga oleh pemerintah agar petani bergairah untuk menanam. Jaminan harga itu tetap harus dipertahankan meskipun panen meningkat dan produk tersedia melimpah. Penulis sangat yakin jika harga dipertahankan pada level yang menarik, petani akan bergairah menanam.
Benih Unggul, Penerapan TekniK Budidaya yang Baik, dan Pendampingan Teknis
Benih adalah salah satu komponen yang penting untuk dihasilkannya produktivitas tanaman yang tinggi. Benih unggul akan menyangkut potensi produksi yang tinggi, dapat beradaptasi pada lingkungan dengan cepat, dan bersih dari patogen-patogen tular benih yang dapat mengurangi potensi produksi, serta tahan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pemanfaatan benih unggul harus diikuti dengan penerapan teknik budidaya yang baik dan benar. Dalam kaitan ini maka peran penyuluh pertanian sangat penting. Pola penerapan peran penyuluh pertanian pada era 1980-1997 patut dicontoh. Melalui penggunaan benih unggul dan pendampingan petani agar menerapkan teknik budidaya yang sesuai, produktivitas tanaman akan mendekati potensi produksinya.
Iklim dan Ketersediaan Air
Air menjadi faktor kunci dalam budidaya tanaman. Lahan yang cukup tersedia akan dapat dioptimalkan bila air mendukung. Ketersediaan air dapat tejadi melalui dua hal, yaitu secara alamiah melaui siklus air yang terjadi secara musiman dan manajemen air (artificial). Siklus alamiah agak sulit dikendalikan karena faktor kendali bukan pada manusia. Kita hanya bisa berharap bahwa siklus air menguntungkan manusia, yaitu curah hujan cukup dan panjang sehingga petani dapat melakukan budidaya tanaman sepanjang tahun. Yag dapat dilakukan manusia adalah memanfaatkan siklus air alamiah melalui manajemen air, salah satunya adalah melalui pembuatan penampungan-penampungan air, mulai dari bendungan yang berskala besar sampai pada embung-embung di setiap lahan yang ada. Tampungan-tampungan air ini akan sangat bermanfaat pada saat secara alamiah air tidak mengalir. Data Statistik Lahan Pertanian 2013 menunjukkan bahwa lahan sawah yang beririgasi adalah 4.417.581,92 ha (54.3%). Untuk memenuhi asumsi perhitungan 2 kali panen dan dilanjutkan dengan jagung atau kedelai, maka 45.7% lahan tersisa perlu dijamin ketersediaannya melalui irigasi.
Ketersediaan Sarana Pertanian Lainnya dan Petani
Salah satu sarana pertanian yang dapat mendukung produktifitas tanaman, terutama untuk mencapai potensi produksi benih unggul adalah pupuk. Pemupukan yang baik dan benar, baik melalui pupuk alamiah maupun pupuk buatan, sangat penting dilakukan. Dosis pemupukan harus disesuaikan dengan tiingkat kesuburan masing-masing lahan sehingga pupuk yang diberikan mencukupi dan tidak mubajir serta tidak mencemari lingkungan. Sementara itu, untuk pengendalian OPT dilakukan melalui sistem pengendalian hama terpadu (PHT) sesuai dengan rujukan pada UU No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. Penangan pasca panen yang baik perlu dilakukan agar hasil panen tidak terbuang percuma. Sementara itu, dari semua hal yang perlu diperhatikan adalah pelaku utama pada pertanian, yaitu petani. Di era industrialisasi dan jasa seperti sekarang ini, para pemuda lebih cenderung tertarik bekerja di fabrik dan menjadi tukang ojek. Oleh karena itu perlu uapaya yang sungguh-sungguh dari pemerintah melaui insentif harga yang menarik agar para pemuda kembali ke lahan untuk menghasilkan padi, jagung, dan kedelai.

Dadan Hindayana
Ketua Sekolah Tinggi Pertanian Kewirausahaan (STPK) Banau, Halmahera Barat
Dosen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB

 

BUAH PIKIRAN

 

1. Swasembada Pangan: Mungkinkah?
2. Kakao sebagai Indikator Perubahan Paradigma Berpikir dan Bekerja SDM Maluku Utara